DESTINASI TELUK BIRU

Senin, 08 November 2010

Sifat"Rebutan"

Memperebutkan uang dianggap tercela. Hanya ada dua momen yang diizinkan orang tua saya untuk ikut rebutan; Pertama, bila hari Agustusan tiba. Saya agresif berebut main balap kelereng, balap karung, makan kerupuk, juga panjat pinang. Kedua, bila malam Rajaban. Saya juga sibuk ikut perlombaan baca puisi, nadzoman, pidato, maupun pentas seni Islami lainnya. Pernahkah kamu lihat wajah teman-temanmu yang sedang rebutan? Bringas, serakah, juga liar! Mereka melihatmu bukan sebagai teman, tetapi musuh yang harus dikalahkan". didasari oleh ajaran agama dan adat leluhur untuk selalu mengalah. "Jangan suka rebutan, tapi belajarlah mengalah! Siapa berani mengalah, dialah yang akhirnya akan menjadi manusia terpandang!", Coba bayangkan! Rebutan untuk naik jabatan, dalam pandangan orang tua, pasti itu dianggap tercela. Tapi kalau tidak turut rebutan, bisa-bisa pangkat jabatan di kantor tak akan pernah naik. Ketinggalan oleh yang muda-muda. Penghasilan standar gaji kelas rendahan. Maka saya sungguh kagum menyaksikan teman-teman saya yang benar-benar menguasai seni rebutan: "Selalu berhasil mendapatkan bagian yang cukup baik dan banyak, tanpa sedikitpun nampak serakah!" Benar-benar tukang rebutan profesional. Hmmm.... Menurut pengalaman saya, tidak semua rebutan itu tercela, bahkan ada rebutan yang hukumnya perlu! Dunia bisnis, kompetisi olahraga, juara kelas, bintang pelajar, bukankah itu tindakan rebutan juga? Mengapa tidak dipandang tercela, bahkan dianjurkan? Lalu dimana batas antara rebutan tercela dan rebutan yang dianggap perlu? Pertanyaan semacam itu sudah cukup lama berkecamuk dalam diri kita. Tetapi jawaban yang memuaskan tidak juga dapatkan. Pada akhirnya lambat-laun nasehat tersimpan di atas angan. Seiring perjalanan waktu,keterlibatan berebut dalam berbagai arena pertempuran. Berebut jadi ketua umum organisasi, berebut jadi presiden mahasiswa, berebut jadi pengurus orsospol, berebut jadi anggota legislatif, berebut naik jabatan di kantor, juga berebut jadi calon pegawai negeri sipil. Sungguh tidak mudah bagi kita untuk menjelaskan fenomena yang terjadi dalam kisah perebutan yang kita alami.Mencoba menarik benang merah agar didapat suatu kesimpulan.bahwa tercela tidaknya perbuatan rebutan, ditentukan oleh dua hal: "Penting tidaknya hal yang diperebutkan, dan sopan tidaknya cara-cara yang digunakan dalam perebutan itu". Maka kita sama-sama belajar mengenali dan menguasai cara-cara rebutan yang tidak tercela. Bila hal itu kita kuasai, maka kita akan mampu untuk saling bersaing, berebut dengan cara yang sportif, kreatif dan elegant. Sebab, suka tidak suka, mau atau tidak, kita akan dihadapkan pada berbagai situasi kompetitif, situasi yang mengharuskan dilakukannya rebutan!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar